Curhat Yuk: Pahit-Manisnya Ditinggal Anak Pergi


Halo, Keluarga Cerdas Indonesia!

Sebagai orang tua, perlu diingat bahwa suatu saat anak yang berusia dewasa tidak akan lagi tinggal di rumah yang sama demi melanjutkan studi, mengejar karir, atau membangun rumah tangga dengan pasangan. Rumah yang mendadak kosong bisa memicu kondisi psikologis berupa perasaan sedih, hampa, cemas, sepi, bahkan memunculkan krisis identitas pada orang tua yang tidak siap menghadapi kepergian anak. Fenomena ini biasa disebut “empty nest syndrome” (sindrom sarang kosong). 

Sebuah penelitian dari University of Athens menghubungkan fenomena “empty nest syndrome” dengan teori identitas peran. Bahwa kehilangan sebuah peran yang mendasar akan menimbulkan krisis identitas jika orang tua tidak memiliki tanggung jawab lain selain anaknya. Apakah ketika anak pergi, maka peran orang tua otomatis berakhir? Tentunya tidak demikian, namun peran dan hubungan antara orang tua dan anak akan mengalami perubahan yang drastis. Dinamika hubungan suami-istri pun akan berubah ketika keduanya tidak lagi sibuk mengurus anak. 

Kami dari Keluarga Cerdas Indonesia merangkum kedua sisi pahit dan manis dari sumber terpercaya. Kita mulai dari sisi pahit dulu beserta tips untuk menghadapinya sebelum lanjut ke sisi manis dari fenomena empty nest syndrome.

Muncul rasa sedih dan kesepian yang mendalam

Rasa rindu dan sedih pasti tak terelakkan ketika orang tua merasakan kepergian anak. Rumah yang biasanya lengkap terisi mungkin terasa asing ketika anak tak lagi ada di dalamnya. Wajar sekali jika orang tua merasa kesepian di fase ini. Walaupun berat, cobalah untuk membicarakannya dengan pasangan dan anak agar Anda tidak menanggungnya sendirian.

Kecemasan terhadap kondisi anak yang jauh dari keluarga

Insting orang tua untuk peduli pada urusan anak tidak bisa lepas hanya karena terpisah jarak. Justru ketika jauh, semakin besar pula kecemasan yang dirasakan karena mereka tidak lagi bisa mengawasi atau menolong mereka setiap hari. Padahal, ini kesempatan krusial bagi anak untuk menumbuhkan rasa tanggung jawabnya. Menjalin komunikasi yang rutin dan berkualitas adalah kunci untuk menumbuhkan kepercayaan orang tua bahwa anaknya mampu hidup mandiri.

Krisis identitas sebagai orang tua

Pada titik ini, sudah sekian dekade dilalui pasangan sebagai “ibu” dan “ayah”. Ada rutinitas yang terbentuk mulai dari menyiapkan bekal anak, mengantar-jemput mereka, hingga makan malam bersama setiap hari. Ketika anak meninggalkan ‘sarang’, kedua pihak butuh beradaptasi pada dinamika yang baru. Membangun pertemanan dan menambah kesibukan di luar keluarga inti bisa membantu orang tua menavigasi krisis ini.

Di sisi lain, ada juga hal-hal manis yang baru terasa ketika anak tidak lagi tinggal bersama orang tua.

Bisa lebih mesra dengan pasangan

Setelah anak pergi, dunia kembali menjadi milik berdua. Syukuri dan manfaatkan kesempatan ini untuk mengisi ulang tangki cinta satu sama lain. Luangkan waktu untuk jalan-jalan dan ngobrol berdua, datang ke kondangan dan acara keluarga, atau sekedar menemani pergi ke pasar dan bersih-bersih rumah. Siapa tahu, ada sisi lain pasangan yang baru dikenal setelah kembali pacaran di usia lanjut.

Punya waktu untuk aktualisasi diri

Penting sekali bagi orang tua untuk memiliki identitas peran selain sebagai ayah atau ibu. Waktu luang yang semakin banyak memungkinkan orang tua untuk menggeluti hobi masing-masing, belajar agama di sela-sela waktu, bahkan ada juga yang kemudian tertarik menempuh studi atau membangun usaha. Nikmatilah waktu luang ini untuk mengeksplorasi siapa diri Anda sebenarnya. 

Rasa bangga melihat anak yang mandiri

Melihat anak yang diasuh sejak kecil hingga menjadi dewasa dan siap menghadapi dunia tentunya menerbitkan rasa haru dan bangga di hati setiap orang tua. Ada rasa syukur yang membuncah atas karunia Tuhan yang membimbing perjalanan Anda sebagai orang tua, serta rasa cinta yang mendalam bagi anak yang telah bertumbuh sampai di titik ini. Semoga rasa bangga ini bisa membawa kerelaan hati untuk melepas mereka hidup mandiri.


Referensi: