Bukan Lagi Cinta Monyet, Orang Tua Harus Apa?


Halo Keluarga Cerdas! 


Sebagai orang tua yang memiliki anak usia remaja akhir menuju dewasa awal (17-25 tahun), di usia inilah anak biasanya mulai tertarik menjalin hubungan yang serius dengan lawan jenis. Bukan lagi sekedar cinta monyet, mereka pun ingin mulai pacaran atau memikirkan pernikahan. Bisa jadi anak membuka obrolan lebih dahulu dengan ayah, ibu, atau keduanya. Atau bisa jadi juga mereka diam-diam menyimpan cinta rahasia. Bagaimana orang tua seharusnya menyikapi anak yang sedang jatuh cinta?


Pertama, orang tua perlu menyadari bahwa peran dan keterlibatannya dalam hubungan romantis anak dimulai jauh sebelum anak beranjak dewasa. Dilansir dari studi yang diadakan University of New Hampshire oleh Jamison & Lo pada tahun 2021, orang tua berperan sebagai contoh teladan dan sumber kasih sayang untuk anak. 


Sejak kecil hingga dewasa, anak belajar tentang cinta dari ayah dan ibunya. Jika mereka terpapar contoh yang positif mengenai komitmen, tanggung jawab, komunikasi, manajemen konflik, dan ekspresi cinta, maka nilai-nilai tersebut akan diserap dan diterapkan ketika mereka mencari pasangan hidup. 


Sebaliknya, jika anak melihat orang tua sebagai contoh yang negatif, maka mereka akan cenderung mencoba-coba dalam mencari pasangan demi menghindari kesalahan yang sama. Hubungan romantis menjadi pelarian mereka untuk memenuhi kebutuhan kasih sayang yang tidak terpenuhi oleh keluarga.


Seperti apa pun pengalaman orang tua ketika mengasuh anak dulu, masih terbuka kesempatan di masa kini untuk mendampingi anak di usia dewasa. Kami merangkum 6 tips dari studi di atas dan sumber lain yang bisa diterapkan orang tua dalam menyikapi anak yang sedang jatuh cinta. Perlu diingat, tips dari kami ini mungkin perlu Anda sesuaikan dengan tahapan usia anak dan situasi masing-masing keluarga.


Menjadi teman curhat untuk anak

Trik sederhana agar anak mau bercerita tentang pengalamannya jatuh cinta adalah setia menjadi pendengar yang baik. Ketika mereka bercerita, berikan perhatian penuh dan tunjukkan rasa ingin tahu tentang apa yang mereka rasakan. Setelah mereka puas bercerita, orang tua bisa bertanya dan berdiskusi lebih lanjut.


Memberikan nasihat tentang hubungan

Saat mengobrol, orang tua bisa menyisipkan nasihat yang disesuaikan dengan kondisi anak. Berikan gambaran apa saja yang perlu anak persiapkan jika mereka memang memiliki niat serius untuk menjalin hubungan. Ingatkan juga bahwa anak perlu memiliki batasan dalam interaksi dengan lawan jenis.


Mengenalkan kriteria pasangan yang baik

Tanyakan pada anak apa yang membuatnya jatuh hati. Apakah paras yang cantik atau tampan? Apakah sifatnya yang baik pada sesama? Atau kecerdasannya yang cemerlang? Dari sini, orang tua bisa berbagi apa saja kriteria yang perlu dipertimbangkan jika anak memang ingin menjalin hubungan serius. 


Mengarahkan ke kegiatan positif

Orang tua perlu mengukur seberapa siap anak untuk menjalin hubungan. Jika dirasa belum cukup matang, orang tua bisa mengarahkan anak untuk menyalurkan gejolak rasanya ke kegiatan yang produktif agar tidak larut dalam perasaan. Misalnya dengan membuat karya seni atau menjadi relawan organisasi. 


Memberikan contoh yang baik pada anak

Bagaimana ayah dan ibu bersikap satu sama lain akan menjadi patokan bagi anak tentang kehidupan rumah tangga. Coba ingat-ingat, kapan terakhir ayah dan ibu bermesraan di depan anak? Kalau ada masalah, apakah ayah dan ibu bisa menyelesaikannya dengan baik? Usahakan untuk memberi contoh yang baik agar anak kelak bisa menerapkannya dengan pasangan.


Mendoakan kebahagiaan untuk anak

Orang tua boleh mengusahakan yang terbaik, tapi pada akhirnya kebahagiaan anak ada di tangan Tuhan. Doakan agar mereka selalu dalam perlindungan dan bimbingan-Nya, hingga dipersatukan dengan pasangan yang terbaik. Anak akan tersentuh ketika tahu orang tuanya selalu mendoakan kebaikan untuknya. Ingatkan juga mereka untuk memanjatkan doa yang sama.


Sebagai penutup, ingatlah bahwa ketertarikan pada lawan jenis adalah hal yang wajar dan tidak perlu dilawan. Namun, tetap perlu dikendalikan dan diarahkan sesuai dengan kesiapan dan kematangan usia anak. Semoga para Keluarga Cerdas yang membaca artikel ini bisa menerapkan tips-tips dari kami untuk menyikapi anak usia dewasa yang sedang jatuh cinta.



Referensi: